aspkurniawan.com

Bahaya Syirik Dan Cara Menghindarinya

by on Jul.05, 2011, under Islam

Penulis oleh H. Sunan Sudrajat

I. Pengertian

Syirik dalam pengertiannya diartikan menyekutukan – mensyarikatkan yaitu mensekutukan Allah Swt dengan sesuatu selain-Nya, baik dengan keyakinan, ucapan maupun perbuatan. Dapat juga diartikan meyakini atau menyembah atau meminta pertolongan kepada selain Allah, misalnya meminta pertolongan kepada dukun, para’tidak’normal, tukang ramal dan semisalnya dengan perantara kekuatan ghaib (jin dan syetan), meminta kepada roh-roh leluhur yang sudah meninggal di pekuburan, pohon-pohon besar, dan sebagainya yang dianggap “keramat”.

II. Jenis Syirik

Syirik menurut pandangan agama, terbagi menjadi dua;
pertama Syirik Jali (syirik yang nyata) artinya bahwa seseorang telah nyata terbukti meminta pertolongan kepada selain Allah Swt. Ini adalah merupakan dosa besar yang tidak terampuni, sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”[QS. An Nisaa’ : 116]

Banyak faktor seseorang terjerumus ke dalam perbuatan syirik nyata ini, diantaranya kebodohannya dalam ilmu agama disebabkan tidak adanya keinginan untuk memperdalam ilmu agama. Padahal ilmu dalam pandangan islam sangatlah penting dan hukumnya “wajib” bagi setiap muslim dan muslimat. Faktor lain dapat juga disebabkan oleh dorongan hawa nafsu. Seseorang bisa saja dapat terjerumus ke dalam kemusyrikan meskipun ia mempunyai pengetahuan agama yang cukup, dikarenakan kurangnya kesabaran tatkala ia mendapatkan kesulitan/kesusahan hidup lantas ia segera mencari jalan pintas agar keluar dari persoalan yang tengah dihadapi. Padahal setiap kesulitan pasti ada kemudahan, setiap persoalan pasti ada jalan keluar, tinggal bagaimana seseorang menapaki kesabaran ketika menghadapi persoalan dan mencari jalan keluar melalui sholat sebagai sarana dialog kepada Allah agar Dia memberikan jalan keluar yang terbaik dari persoalan yang dihadapi, sebagaimana firman Allah :
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [QS. Alam Nasyrah : 5-6]
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS. Al Baqarah : 153]

Mungkin kelihatannya sepele yang sering kita jumpai di dalam masyarakat pada umumnya, bila seseorang mendatangi dukun – para’tidak’normal – tukang ramal dan semisalnya, dengan maksud agar pasangannya kembali kepadanya karena berselingkuh, tidak terkena PHK, supaya disenangi atasan, gampang jodoh karena sudah lama menjanda/menduda atau punya anak perawan yang sudah ‘agak kadaluawarsa’ karena belum juga mendapatkan jodoh, supaya menang pada pemilihan (misalnya pilkada), agar cepat naik pangkat dan sebagainya, ini disadari atau tidak sudah merupakan pelanggaran batasan agama, sebagaimana sabda Nabi Saw :
“Siapa yang pergi ke tukang ramal, atau dukun lalu percaya (yakin) pada keterangannya berarti telah kafir terhadap apa yang diturunkan pada Nabi Muhammad Saw.” (HR. Abu Dawud, Attirmizi, AnNasa’I, Ibn Majah dan Al Hakim).
“Siapa yang datang kepada tukang ramal (dukun) lalu menanyai tentang sesuatu dan mempercayainya, maka Allah tidak akan menerima sholatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim).

Dari hadits di atas jelas terbukti bahwa perbuatan meminta tolong atau bertanya tentang sesuatu kepada dukun atau tukang ramal adalah merupakan perbuatan syirik dan orang yang melakukannya disebut sebagai musyrik, dan begitu juga meminta pertolongan kepada kuburan, pohon besar atau benda-benda yang dianggap ‘keramat’ dengan alasan ‘bersyariat’. Perbuatan tersebut merupakan dosa besar dan tidak terampuni, sebagaimana firman Allah Swt :
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’ : 116)

Oleh karena demikian yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana persoalannya ketika seseorang yang mendatangi ulama atau kyai atau wali mursyid (yang sesungguhnya) bertanya tentang sesuatu (bukan dukun atau para’tidak’normal yang bergaya seperti kyai)? Hal itu sangat dianjurkan oleh agama, karena mereka akan memberikan ilmu dan bimbingan dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt, serta mengajarkan bagaimana menginterpretasikan pesan dari Allah Swt melalui persoalan yang sedang dihadapi, sebagaimana firman Allah Swt :
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah[1] Itulah yang pasti menang.” (QS. Al Maidah : 55-56)
[1] yaitu: orang-orang yang menjadikan Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya.

Syekh Abul Hasan Asy Syadzili mengatakan ; “Siapa yang menunjukkan dirimu pada dunia maka ia akan menghancurkanmu, siapa yang menunjukkan dirimu pada amal maka ia akan memayahkanmu, dan barangsiapa yang menunjukkan dirimu pada Allah maka ia pasti menjadi penasehatmu.” Ibnu Athoillah As Sakandari dalam kitab Al Hikam mengatakan ; “Janganlah berguru pada seseorang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu jalan menuju Allah.”

Kedua Syirik Khofi (syirik yang samar). Yakni perbuatan syirik yang tidak terdeteksi karena yang bersangkutan tidak menyadari bahwa amal ibadahnya tidak ia tujukan kepada Allah namun mengharapkan pujian dari manusia. Syirik khofi diantaranya adalah riyaa’, Nabi mengisyaratkan seperti semut hitam yang berjalan diatas batu hitam di dalam kegelapan malam, sangat sulit dilihat apalagi terbaca bahwa seseorang berlaku riyaa’ karena ia merayap di dalam hati. Jadi jika seseorang riyaa’ hanya dirinya sendiri dan Allah yang tahu. Firman Allah Swt :

“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi : 110)

Sifat Allah adalan pencemburu, karena memang tidak ada yang berhak dan patut disembah kecuali Dia. Dia-lah yang telah memberikan segala kebutuhan bagi makhluk-Nya. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan. Dia-lah Maha Kekuatan dari segala yang ada, maka wajib bagi seorang hamba agar setiap amal kebajikan yang dilakukan ditujukan kepada-Nya, meskipun disamping itu Dia tidak akan punah apalagi berkurang kemuliaan-Nya atau berkurang kekayaan-Nya jika seorang hamba tidak menyembah-Nya, justru sebaliknya hambalah yang merugi karena mengharapkan pujian dari makhluk bukan dari Sang Kholik karena hal itu tidak ada gunanya dan tidak mendapatkan balasan di sisi Allah Swt, dan yang lebih buruk lagi tiap amal kebajikan yang mengharapkan pujian dari makhluk tidak akan berbekas sama sekali, di dunia dan di akhirat, badan payah hatipun susah. Sabda Nabi Saw :
“Sesungguhnya yang sangat aku khawatirkan atas kamu, ialah syirik yang kecil (samar) yaitu riya’ kelak pada hari qiyamat Allah akan berkata terhadap orang-orang riya’ dalam perbuatan amal mereka; pergilah kamu kepada orang yang dahulu kamu riya’ (ingin dipuji dan dilihat mereka) di dunia, lihatlah apakah kamu bisa mendapatkan balasan pahala dari mereka.” (Hr. Ahmad).
“Sesungguhnya yang sangat aku khawatirkan terhadap umatku, ialah syirik kepada Allah. Ingat bukan aku berkata : kamu akan menyembah matahari, atau bulan atau berhala, tetapi kamu berbuat amal untuk selain Allah, dank arena terdorong syahwat yang samara.” (Hr. Ibn Hibban)

Dalam pandangan islam, sangatlah baik bila seseorang menafkahkan hartanya di jalan Allah Swt dalam shodaqoh karena hal itu dapat mematahkan sifat bakhil dan mendidik sifat dermawan. Bukan menjadi persoalan jika seseorang menyumbang disebutkan namanya atau tidak, karena hal itu dalam rangka fastabikul khoirot (berlomba dalam kebajikan) dan masalah kebiasaan saja, tapi yang menjadi persoalan adalah apakah di dalam hatinya dia merasa bahwa dia-lah yang paling dermawan di lingkungannya? dan berharap pujian dari masyarakat sekitar? apalagi sampai mengungkit pemberiannya dan menyinggung perasaaan si penerima karena perbuatan itu dapat menghancurkan amal. Sebagaimana firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (2)” (QS. Al Baqarah : 264)
(2) mereka Ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

Dalam pandangan islam, sangatlah baik bila seseorang menambah ibadahnya dalam bentuk sunnah seperti memperbanyak sholat sunnah. Namun harus diuji dulu apakah ia ikhlas berkenan melaksanakannya karena Allah? Apa jadinya jika ia menyempurnakan sholatnya ketika dilihat orang dan menguranginya ketika di waktu sendirian? Ia termasuk orang yang munafik dan perbuatan itu merupakan pernghianatan kepada Allah. Firman Allah Swt :
“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisaa’ : 142)

Sabda Nabi Saw :
“Siapa yang menyempurnakan sholatnya ketika dilihat orang, dan menguranginya di waktu sendirian, maka itu berarti penghinaan terhadap Tuhannya.” (Hr. Attabrani, Albaihaqi)

Dalam pandangan islam, sangatlah baik seseorang yang gemar berpuasa dan gemar melaksanakan sholat di waktu malam, namun hal itu bukanlah merupakan sebuah prestasi di hadapan Allah jika ada unsur riyaa’ dalam pelaksanaannya. Sebagaimana sabda Nabi Saw :
“Adakalanya orang yang puasa itu tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar, dan adakalanya orang yang bangun malam tidak mendapat pahala apa-apa dari bangunnya itu kecuali tidak tidur.” (Hr.Ibnu Majah).
Nabi Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga atas orang yang beramal dengan riya’ (untuk dilihat/dipuji orang).(Hr. Addailami) – “Bau surga itu bisa tercapai dari jarak 500 tahun, tetapi tidak merasakan baunya orang yang mencari dunia dengan amal akhirat (jika amal untuk akhirat digunakan untuk mencapai kekayaan/kedudukan dunia). (Hr. Addailami) – “Sesungguhnya di dalam neraka jahanam ada sebuah jurang, dimana jahanm itu sendiri berlindung kepada Allah daripada jurang itu tiap harinya 400kali, dan jurang itu disediakan untuk orang-orang yang riya’ dari umat Muhammad Saw yaitu orang yang membawa kitab Allah tidak karena Allah, orang yang sedekah tidak karena Allah, dan orang yang haji tidak karena Allah, dan orang yang keluar jihad tidak karena Allah.” (Hr.Attabrani).

Dalam pandangan islam, sangatlah baik bila seseorang melaksanakan amal kebajikan ikhlas karena
Allah dan Rasul-Nya karena hal itu dapat meninggikan derajatnya baik pada kehidupan dunia maupun akhirat. Firman Allah Swt :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[3], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)
[3] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

III. Cara Menghindari Riyaa’

Oleh karena sifat riyaa’ merupakan syirik yang samar maka sulit untuk bisa terdeteksi. Bagaimana caranya agar seseorang terhindar dari perbuatan riyaa’ [ 3 M ] :
1. Meyakini bahwa setiap amal kebajikan yang dilakukan hanyalah semata-mata karena pertolongan Allah Swt yang merupakan kemenangan yang diberikan kepada hamba-Nya yang beriman. Allah Swt berfirman :
“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal : 10)

2. Meyakini bahwa setiap amal kebajikan yang dilakukan hanyalah Allah yang memberikan pujian dan balasan. Kalaupun ada pujian dari manusia tidak lantas besar kepala dan mabuk kepayang dengan pujian itu, namun segera dikembalikan kepada Allah karena Dia-lah yang pantas untuk dipuji juga karena Dia-lah seseorang mendapatkan prestasi dari amal yang dilakukan. Allah Swt berfirman :
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al Bayyinah:8)

3. Memperbanyak zikrullah. Zikrullah merupakan obat dari penyakit hati, riyaa’ termasuk di dalamnya. Dengan memperbanyak zikrullah baik dengan lisan, maupun hati berarti seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah, Dia-lah Tuhan Yang Maha Menggenggam hati hamba-hambaNya, yang dengan itu Allah akan membalikkan hati hambaNya di dalam ketaqwaan dan lepas dari pandangan hatinya kepada dunia dan kecenderungan hawa nafsu. Tatkala seorang hamba hatinya berzikir kepada Allah pada tiap amal ibadah yang dikerjakan berarti dirinya telah terhindar dari sifat riyaa’. Allah Swt berfirman :
“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf : 205)
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[4], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)
[4] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan

 

:

1 Comment for this entry

Leave a Reply


Tukeran LInk/ Banner Di sini. Silahkan kopi kode html Dibawah ini dengan menekan CTRL dan C

ASPkurniawan

Link Texs

ASPkurniawan

Banner Sahabat